Anda Mahasiswa????Apakah anda termasuk Plagiatisme?
Merebaknya Plagiatisme Pembuatan Skripsi
Tugas akhir berupa skripsi, tesis atau disertasi seharusnya merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk membuat mahakarya dalam hidup mereka.
Tetapi tidak semua mahasiswa bisa seantusias itu. Menghadapi tugas akhir skripsi, yang muncul justru keengganan. Susahnya bertemu dosen pembimbing, sulitnya memperoleh data, dan kebingungan melakukan analisis, dapat menyurutkan motivasi pengerjaan skripsi. Apalagi ketika konsentrasi beralih dari kuliah ke pekerjaan yang telah didapat.
Sangat disayangkan kalau kemauan dan kemampuan mahasiswa untuk membuat skripsi sangatlah rendah. Bahkan tak sedikit pula yang membuat skripsi dengan cara menjiplak skripsi orang lain. Budaya plagiatisme seperti itu tenntunya sangat merusak kualitas mahasiswa itu sendiri. Namun, tetap saja banyak mahasiswa yang mengambil jalan pintas tersebut, karena tidak mau pusing memikirkan berbagai kesulitan saat mengerjkan skripsi.
Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Dr Edi Noersasongko Ir MKom, mencermati fenomena ini sebagai kesalahan mahasiswa dan kampus. ”Kampus sebenarnya merupakan pertahanan dari komunitas yang bernama masyarakat. Banyaknya kasus plagiatisme itu mungkin dikarenakan kampus kurang teliti dalam menguji skripsi, sehingga memberi peluang mahasiswa untuk melakukannya,” kritiknya.
Untuk itu, kampus harus selalu memperhatikan mekanisme pengecekan tugas-tugas mahasiswa. Kalau mekanisme dijalankan dengan baik dan benar, hal itu dapat mengurangi kasus penjiplakan skripsi. Pelakunya pun biasanya mahasiswa yang kurang percaya diri terhadap kemampuannya. Kampus harus mampu memotivasi mahasiswa agar membuat skripsi dengan baik.
Edi Noersasongko menjelaskan, mahasiswa di kampusnya sangat sulit melakukan plagiat, karena kampus sudah melakukan upaya pencegahan dengan selalu mengadakan ujian skripsi berupa teori dan praktek. Setiap mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi minimal harus delapan kali ikut bimbingan skripsi.
”Kedewasaan berpikir diproses lewat skripsi. Jika seorang mahasiswa melakukan plagiat, bisa dilihat kemampuan analisisnya lemah. Jika mahasiswa ketahuan melakukan plagiat, dia akan mendapat sanksi akademik tidak lulus ujian. Jadi, seharusnya mahasiswa sadar bahwa menulis skripsi adalah bagian dari proses belajar”.
Tradisi Menulis
Sedangkan Pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Prof Dr Ibnu Hadjar MEd, berpendapat kasus plagiatisme terjadi karena keinginan mahasiswa yang ingin cepat lulus, tetapi tidak mau bekerja keras untuk mendapatkan kelulusannya.
”Tradisi menulis yang tidak dilembagakan menjadi persoalan dasar di bangku akademik mana pun. Itulah mengapa skripsi dianggap pekerjaan yang membebani. Tradisi berpikir itu sendiri sering jadi permasalahan, sehingga mahasiswa mengambil jalan pintas dalam pengerjaan skripsi. Seharusnya mahasiswa percaya pada kemampuan dirinya”.
Selain itu, jika mahasiswa diketahui melakukan penjiplakan skripsi, kampus akan memberi sanksi akademis. Sanksi tersebut berupa ketidaklulusan. Jika plagiatisme diketahui setelah lulus, maka kampus bisa membatalkan gelar kesarjanaannya.
Dosen Ilmu Komunikasi Undip, Drs Joyo NS Gono MSi, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan masih maraknya aksi plagiatisme skripsi. Antara lain mahasiswa malas belajar, atau kurang memiliki kemauan membaca buku-buku berbahasa asing, sehingga kecerdasannya tidak pernah terasah.
”Jurusan Ilmu Komunikasi Undip meredam aksi plagiatisme ini dengan membentuk lembaga filter yang berfungsi untuk menguji kesiapan mahasiswa dalam menulis skripsi. Diharapkan lembaga filter ini dapat meminimalisasi aksi plagiatisme,” ungkapnya.
Joyo yang juga ketua lembaga filter ini menambahkan, menjadi sarjana bukan sekadar mencari nilai yang baik. Lebih dari itu, untuk meningkatkan kemampuan analisis mahasiswa secara optimal, sehingga punya kompetensi setelah lulus.
Skripsi hanyalah muara akhir pengujian kualitas mahasiswa. Kalau kemudian memiliki beban SKS lebih tinggi, itu semata-mata pertanggungjawaban intelektualitas insan akademik akan kualitas SDM yang diharapkan. (Dela Sulistiyawan Yunior-32)
http://www.suaramerdeka.com/harian/0611/30/opi05.htm

