Penulis : Arsil Ibrahim, MA
Judul : My Dad, My Pious Dad / Ayahku, Ayah yang Saleh
Editor : Fauzi Fauzan
Penerbit : Duta Khazanah
Penata letak : Ach. Sakti W.
Ukuran : 14.5×21 cm
Tebal : 238 halaman
Cover : Eldy 5
Kategori : Buku / Teladan & Motivasi
Terbit : Cetakan I Januari 2007/Cetakan II Agustus 2008
Buku ini benar – benar memberikan inspirasi serta motivasi bagi setiap pembacanya. Yang saya kira awalnya buku religi ini penuh dengan teori-teori fiqih, ternyata buku ini bagaikan kita membaca suatu novel yang notabene tidak terlalu religi. Hanya pesan-pesan yang mengandung di dalamnya sangat religius. Menceritakan pesan dan wasiat dari seorang ayah kepada anaknya agar bahagia, gembira dan kaya sepanjang masa baik dunia mapun akhirat. Buku yang sarat dengan nilai, dipresentasikan dengan penuh gaya penuturan yang mengalir dan cerita-cerita mengharukan dari rekaman kehidupan. Buku ini mengajarkan kita untuk membaca semua kejadian dan senantiasa taqarub illalah.
” Nak….Di dunia ini tidak ada kesuksesan sekecil apa pun yang bias dicapai dengan mudah. Memulai sebuah usaha baru sama beratnya dengan penderitaan seorang ibu melahirkan bayi. Keduanya sama-sama menuntut pengorbanan, pemikiran, keringat, ketahanan menanggung rasa sakit, bahkan sering kali nyawa. Namun keteguhan hati kita untuk terus melangkah, insya Allah itulah yang akan membawa kita menuju perubahan. Melangkahlah, Nak. Lebih baik melangkah seribu langkah untuk mencari air, daripada membiarkan diri mati kehausan di tengah padang pasir.”
“Sadarilah, kita hadir dan hidup di dunia ini bukan karena kehendak kita, kita hadir dan hidup didunia ini karena kehendak Allah, pasti ada rencana besar Allah menghadirkan kita sebagai manusia di bumi ini. Jika tidak, bias disepak-sepak orang atau sehelai rumput di hutan yang dimamah binatang, atau seekor burung diatas dahan yang mati di ujung senapan. Hargailah Allah yang mencintai mud an telah mentakdirkan mu menjadi manusia” (Pusaka Sang Ayah)
Itulah sedikit pesan sang ayah (Abak) yang melekat pada diri Arsil Ibrahim, penulis buku ini. Lewat tulisan berjudul “Buyung Miskin Mulai Merantau” (halaman 28), Arsil memotret kegigihan sang ayah yang dipanggilnya dengan sebutan Abak, seorang tukang sol sepatu di Pasar Atas Bukit Tinggi. Profesinya tak membuatnya minder untuk berkenalan dan bersahabat dengan ulama besar. Abak pun rajin menghadiri pengajian para ulama di sana.
Para jamaah masjid di Pasar Atas Bukit Tinggi termasuk buya-buya menyangka Abak adalah seorang pengusaha besar di Pasar Atas. Mereka pun terkejut begitu melihat Abak duduk mengesol sepatu. ”Abak miskin harta tapi jiwa merasa berharga, Kerja emperan namun hati penuh dengan kegembiraan.”


