Depok tumbuh dari sebuah kecamatan dilingkungan kewedanaan Parung, Bogor. 1976, masuk perum Perumnas sebagai pelaku pembangunan di sanan. Diikuti oleh pengembang-pengembang lain, menjadikan Depok sebagai salah satu kawasan pinggiran Jakarta yang giat menembangkan diri. Diantaranya penentu Perkembangan Depok yang mencolok adalah keputusan dibangunnya kampus Universitas Indonesia yang menempati areal 318 hektar pada tanggal 5 september 1987 di Pondok Cina- Depok. Tak hanya itu Universitas Gunadarma pun turut memajukan dalam bidang edukasi. Dengan empat bangunan salah satunya terletak di Pondok Cina sepanjang jalan Margonda sebut saja kampus D, dan tiga kampus lainnya di sepanjang Jalan Akses UI sebut saja Kampus E, G, H.
Kurun waktu belasan tahun sebagai penyangga Ibukota, Depok berkembang begitu pesat. Pada tahun 1981 pemerintah membaentuk kota administrative berdasarkan Peraturan Nomor 43 Tahun 1981 dan berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1999, Tentang Pembentukan Kotamadya Dearah Tingkat II Depok, yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999, dan diresmikan pada tanggal 27 April 1999.
Depok tumbuh dengan cepat
Tidak seperti umumnya , meski pertumbuhan Depok begitu cepat, rasio lahan terbuka hijau dalam skala 55:45 masih dipertahankan dengan menetapkan kawasan konservasi air di kecamatan Limo, Cimanggis, dan Sawangan. Jika melihat tren yang berkembang, maka kawasan Depok, Sawangan hingga Cinere diperkirakan semakin kompleks sebagai kawasan hunian untuk semua lapisan masyarakat. Mugkin karena aksesibilitas dari sini ke kawasan lain di Jakarta cukup baik.
Perkembangan properti di Depok didorong oleh keputusan Pemda setempat yang mengalokasikan tidak kurang dari 25 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD) untuk membangun infrastruktur. Di sisi lain rencana pembangunan ruas tol Depok-Antasari dan Cinere-Bogor-Jagorawi masing-masing sepanjang 18,2 kilometer dan 14 kilometer, makin mendorong pergerakan pembangunan di kota Depok.
Bila sebelumnya Depok didominasi perumahan kelas menengah ke bawah, kini sudah ada perumahan untuk kelas menengah ke atas. Sebut saja perumahan Pesona Khayangan, Bella Casa, Kota Kembang, Depok Maharaja, Telaga Golf Sawangan, Bukit Ravira Sawangan, mega Cinere, Pondok Indah Cinere, sebagai perumahan real estate yang langsung bersinggungan dengan kota Depok. Harga yang dipatok sedikit diatas seratus jutaan dengan tipe terkecil yaitu 36 atau 45. Belum lagi bermunculan rumah-rumah dengan model town house seperti Griya Sarana Husada dan Villa Nirvana.
Perkembangan ini sedikit berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya dimana perumahan lebih banyak tumbuh disepanjang Depok-Citayam-Bojong Gede, dengan kereta api sebagai Modal transportasi utama. Saat itu perumahan yang hadir pun kebanyakan unuk kelas menengah ke bawah.
Depok muthakir menunjukkan diri sebagai pusat pertumbuhan dan penentu perkembangan kawasan selatan Jakarta. Di samping keunggulan-keunggulan yang telah disebutkan dimuka, factor lain yang mendongkrak prospek kawasan dan pergerakan investasi di wilayah tersebut adalah pengembang swasta. Diantaranya PT Duta Pertiwi pembangun ITC Depok sebagai pusat niaga lima lantai dengan luas tanah 17.000 meter persegi, diatas tanah seluas dua hektar. PT Puri Dibya Properti (Djarum Group) yang mendirikan pusat pembelanjaan tiga lantai dengan luas bangunan 49.000meter persegi, diatas lahan 7,6 hektar.
Depok Town Square oleh group Lippo Land Develelpoment Tbk yaitu pusat pembelanjaan lima lantai dengan luas bangunan 83.443 meter persegi juga turut menghiasi sepanjang jalam Margonda.
banyak
Selain pembangunan pusat pembelanjaan, apartemen juga telah menembus pinggiran Jakarta. Sebut saja Margonda Residance, enam blok apartemen dengan tujuh dan delapan lantai (704 unit) dengan total luas bangunan 20.000 meter persegi dimulai pada Maret 2005 lalu dan selesai pada Maret 2006. Puri Sahid Srigading Apartemen yang dikembankan oleh PT Sahid Inti Dinamika juga telah membangun enam lantai dengan 60 unit dengan luas bangunan sendiri mencapai 7.500 meter persegi.
Sampai pada tahun 2010, penduduk Depok sekitar 1,6 juta jiwadengan tingkat hunian 91.000 unit padalahan seluas 5.277 hektar. Sedangkan unuk lahan industri 5.40% dari totalwilayah sekitar 1.100 hektar.
Salah satu yang harus dibenahi berkaitan dengan mobilotas Kota Depok adalah persoalan tingginya komuter karena sebagian besar penduduk bekerja di DKI Jakarta. Terbatasnya jalan alternative di poros tengan kota menuju Jakarta yang akan menimbulkan kemacetan maka kota Depok memulai menggalakan pembangunan pelebaran jalan utama yang diperkirakan akhir tahun 2009 sudah selesai meskpun pada tahun ini nyatanya belum sempurna. Terutama Penataan bangunan pada ruas jalan lintasan regional dan sepanjang jalan utama untuk mengurangi kendala utama yaitu kemacetan.
Keinginan pengembangan selalu terbuka, dengan potensi pekerja yang memiliki keterampilan dan pengetahuan tinggi, kecepatan pertumbuhan yang tinggi, dan rasio pengeluaran yang tinggi.
Dengan semua gambaran di atas, fasilitas sarana dan prasarana masyarakat kota Depok sudah bisa dikatakan mencukupi. Mungkinkah Depok akan menayamai kota besar seperti Austin-Texas, Bangalore-India, Cambridge-England, Helsinki-Finlandia, Seattle-Washington, Singapore,Sophie-Antipolis-Prancis. Waktu yang akan menjawab?

